FASDIKLAT PMPP KUALITAS TNI UNTUK PASUKAN TOPI BAJA BIRU

International Day Of United Nations Peacekeepers atau hari untuk menghormati Pasukan Penjaga Perdamaian PBB, yang diperingati setiap Tanggal 29 Mei, merupakan momen untuk refleksi bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam mendukung perdamaian dunia.

Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sering disebut Topi Baja Biru (sesuai dengan topi biru muda yang mereka kenakan), yang mencakup tentara, polisi, dan petugas pakar ahli lainnya, memiliki misi utama untuk mendukung penyelesaian konflik antar negara dan antar masyarakat dalam suatu negara. Pasukan Topi Baja Biru ini bertujuan untuk memastikan pengembangan perdamaian dan keamanan di dunia, mengawasi kepatuhan gencatan senjata, melindungi penduduk sipil, melucuti dan melumpuhkan gerilyawan, melakukan pemeliharaan hukum dan melatih kekuatan polisi setempat.

Indonesia adalah salah satu negara yang memberi kontribusi paling besar kepada Operasi Perdamaian PBB. Dari 116 negara yang mengkontribusi anggota militer dan anggota polisi, Indonesia berada di ranking ke-16 sebagai negara yang memberi sejumlah prajurit paling besar. Berdasarkan data yang diperoleh dari Monthly Summary of Troop Contribution to UN Operations  Month of Report, Tanggal 30 April 2012 (http://www.un.org/en/peacekeeping/contributors/2012/apr12_4.pdf), untuk membantu Operasi PBB, Indonesia mengirim 1.884 orang anggota TNI dan POLRI (Individu Polisi: 21, Badan Polisi Unit: 140, Pakar Ahli Misi: 25 dan Kontingen Pasukan 1.698 orang).

Indonesia, selain kirim pasukan perdamaian sangat penting, udah menginvestasikan di dalam proses mengajar – belajar untuk dapat anggota prajurit, polisi dan panglima sangat pantas untuk berhadap masalah konflik di luar negeri. Pada bulan desember 2011 Kementerian Pertahanan RI meresmikan Fasilitas Pendidikan dan Pelatihan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (FASDIKLAT PMPP) di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Kampusnya sangat luas, seluas 261 hektar yang memiliki fasilitas, antara lain, Pusat Pelatihan Penanggulangan Bencana, Pusat Pelatihan Bahasa, Pusat Pelatihan Penanggulangan Terorisme, dan Markas Pasukan TNI.

Saat ini, pemerintah Indonesia berencana membangun Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Bertaraf  Internasional di FASDIKLAT PMPP sebuah kampus Indonesia Defence University (IDU) juga disebut Universitas Pertahanan (UNHAN) dengan fasilitas lengkap, seperti language center khusus tentang specialized language yang berkaitan dengan tugas-tugas proses perdamaian, pendidikan tentang perjuangan melawan terorisme, operasi bantuan bencana dan juga fasilitas untuk persaingan kompetisi internasional militer.

Rencana pembangunan kampus IDU sangat pantas, karena akan memperbaiki kualitas Pasukan Penjaga Perdamaian TNI melalui pelatihan khusus tentang proses perdamaian pada kondisi konflik. Bukan hanya itu, FASDIKLAT PMPP diharapkan dapat menjadi salah satu lembaga pelatihan dan pendidikan terbaik di dunia tentang Pasukan Perdamaian karena negara Indonesia memiliki potensi-potensi tersebut. Salah satunya adalah IDU, sebagai perguruan tinggi yang sudah memiliki pengalaman mengajar jurusan seperti Studi Magister Peace and Conflict Resolution, Pertahanan, Manajemen Bencana dan lain lain serta TNI yang sangat sukses sebagai lembaga yang memiliki pasukan militer terbaik di dunia, sangat dihormati oleh tentara dari negara lain. Misalnya Komandan Pasukan Khusus (KOPASSUS) dipilih sebagai Komandan Elit ketiga terbaik di dunia oleh Channel Televisi Discovery Militer (Perusahan Televisi dari negara USA khusus tentang bidang militer).

Gabungan dari ketiga lembaga ini, FASDIKLAT PMPP, TNI dan IDU, merupakan sebuah kombinasi yang sangat cocok dalam pembentukan pendidikan dengan tingkat universitas tertinggi tentang Pasukan Perdamaian PBB. Dan pastinya, harus menciptakan sebuah program pendidikan dengan status pascasarjana khusus untuk dapat pengelola terbaik pasukan Topi Baja Biru.

Di dunia, sudah banyak program magister Peace and Conflict Resolution, tapi belum ada sebuah program Magister Manajemen Pasukan Perdamaian. TNI dan IDU mempunyai potensi untuk dapat menciptakan sebuah program magister seperti itu karena memiliki sumber daya manusia yang sangat baik dari SESKO, pejabat diplomat dari Kementerian Luar Negeri dan pejabat dari Kementerian Pertahanan dan pakar TNI yang dulu berfungsi sebagai pakar Pasukan Perdamaian.

Dalam program tersebut memang harus mencakup mata kuliah seperti hukum humaniter internasional, perdamaian operasi, etika militer, strategi, pelatih untuk kegiatan yang berkaitan dengan perdamaian, bantuan kemanusiaan, logistik untuk operasi perdamaian, negosiasi di dalam keadaan kompleks, hak asasi manusia, dan lain lain.

Dengan program magister itu, TNI akan menjadi tentara pertama di dunia yang memberi pendidikan pascasarjana khusus kepada anggota yang akan mengikuti sebagai pengelola Pasukan Topi Baja Biru. Selain manfaat tersebut, setelah program itu berhasil, para alumni, TNI dan POLRI akan dapat menaikan sejumlah pakar ahli yang berfungsi di Pasukan Penjaga Perdamaian PBB, karena saat ini, Indonesia hanya memiliki 25 angota dengan status pakar atau disebut juga “expert on mission”.  Jumlah tersebut terlalu sedikit dibandingkan dengan sejumlah 1.884 anggota Kontingen Pasukan atau individu polisi yang dikirim oleh TNI dan POLRI ke PBB.

Pasukan Topi Baja Biru bukan hanya berfungsi di bidang perdamaian, namun berfungsi sebagai keamanan untuk melindungi penduduk sipil dan melakukan pemeliharaan hukum dan melatih kekuatan polisi setempat lokal. Berdasar hal itu, FASDIKLAT PMPP kemudian berencana membangun sebuah lembaga pendidikan seperti Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), dengan tujuan menjadi lembaga dengan pengetahuan yang lebih tentang keamanan.

STIK memiliki dosen-dosen khusus di bidang ilmu Administrasi Kepolisian, Hukum Kepolisian dan Managemen Keamanan serta Teknologi Kepolisian. Dari dulu di dalam jurusan jurusan tersebut, dosen mengajar Perkembangan & Pencegahan Kejahatan, Teknologi Kepolisian, Teori Kriminologi, Transnational Crime dan Radikalisme dan lain lain. Diharapkan para alumni FASDIKLAT PMPP menjadi pakar dibidangnya sehingga dapat mencetak anggota POLRI yang dapat melayani, mengajar dan melatih personil polisi setempat di negeri luar.

FASDIKLAT PMPP dan STIK diharapkan mampu mendorong anggota POLWAN untuk menjadi Pasukan Penjaga Perdamaian PBB karena sampai sekarang cuma 10% anggota polisi wanita, dan rencananya pada tahun 2014 menaikkan menjadi 20%.

Pasukan Penjaga Perdamaian PBB selalu di tugaskan di daerah rawan konflik, dengan keadaan extrim, risiko sangat tinggi, yang dapat menimbulkan stres, dan lain lain. Kondisi tersebut memerlukan mental kuat prajurit dan memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi agar tidak terjadi pelanggaran hak asasi manusia. Mereka, bukan hanya dibekali tentang pengetahuan hukum untuk menjadi prajurit yang siap pada kondisi itu, namun, diperlukan juga pengetahuan lain.

FASDIKLAT PMPP harus dapat bekerjasama dengan perguruan tinggi pemerintah di bawah Kementerian Agama supaya mereka mendapatkan pelajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan kepada calon anggota Topi Baja Biru. Republik Indonesia memiliki Universitas Islam Negeri (UIN), STABNS (Sekolah Tinggi Agama Budha Negeri Sriwijaya (STABNS) Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN), Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) dan lain lain. Setiap perguruan tinggi tersebut mengajarkan pengetahuan tentang bagaimana internalisasi nilai-nilai kemanusiaan di dalam pikiran tiap orang., sehingga dari pengetahuan tersebut memberikan pemahaman tentang arti menghormati hak asasi manusia.

Di waktu senggangnya, setelah melakukan aktivitas rutinnya, pasukan perdamaian PBB, selalu mengisi dengan pagelaran senidan budaya. Hal ini dilakukan untuk melepaskan kepenatan dan memberikan suasana santai kepada para prajurit. Dalam pagelaran tersebut, masing-masing prajurit menampilkan beragam kesenian dan kebudayaan tradisional negaranya masing-masing.

Hal ini juga, diharapkan menjadi perhatian bagi FASDIKLAT PMPP, untuk dapat memberikan pengetahuan dan kemampuan di bidang seni dan budaya, baik tari maupun musik tradisional Indonesial kepada setiap prajurit, sehingga mereka pun dapat menjadi duta seni dan budaya Indonesia untuk diperkenalkan kepada pasukan dari Negara lain dan masyarakat lokal. Untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan di bidang ini, FASDIKLAT PMPP dapat bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STISI).

FASDIKLAT PMPP sangat penting sebagai lembaga yang menggodok/mempersiapkan sumber daya pasukan TNI menjadi pasukan perdamaian dunia. Untuk menjadi lembaga yang berhasil mempersiapkan pengetahuan dan keterampilan para lulusan nantinya, harus mau bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi yang unggul dibidangnya agar dapat mencetak anggota Pasukan Perdamaian PBB dengan kualitas terbaik, sekaligus membawa dan menjaga nama besar Republik Indonesia di luar negeri.

PENULIS: Franco Gonzalo Montesino

E-MAIL: francoindonesia@yahoo.com.ar

ALAMAT: Jl. Jr. H. Juanda No. 340/5  RT/RW: 06/07 (Bandung – Indonesia)

AKTIVITAS : Mahasiswa Universitas Padjajaran Bandung. Fakultas Sastra. Programa Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. (BIPA). 

Leave a Reply